Di Kabupaten Boyolali Jawa Tengah, Indonesia ada pusat industri rumah tangga yang menghasilkan kerajinan logam khususnya kerajinan tembaga. Industri rumah tangga ini terletak di Desa Tumang. Menurut cerita setempat, industri rumah tangga ini telah lahir sekitar abad ke-18. Yaitu sejak lahirnya seorang anak dari keluarga Kerajaan Mataram II, bernama Kyai Rogosasi. Akibat menderita cacat fisik, dia tidak diizinkan untuk tinggal di istana. Dia akhirnya dibawa Kyai Wonosegoro yang tinggal di lereng gunung Merapi. Setelah Rogosasi menjadi dewasa dan bisa mandiri, dia pindah ke tempat lain, dan membangun sebuah desa. Pangeran dibantu utusan pertama Kerajaan Mataram dan masyarakat setempat bersama-sama membuat keris berikut sarungnya. Utusan kedua membantu untuk membuat pakaian yang terbuat dari perak. Utusan ketiga membantu penduduk desa untuk membuat alat memasak yang terbuat dari tembaga.
Pada awalnya, penduduk di desa Tumang memproduksi peralatan rumah yang terbuat dari tembaga. Kemudian di tahun 1979 mulai mencoba menambahkan inovasi baru. Beberapa orang mencoba menjadikan tembaga menjadi aksesoris rumah dan produk-produk antik. Jenisnya berbagai macam, mulai dari peralatan dapur, meja, lampu antik, vas, patung dan sebagainya, dari mulai produk-produk fungsional hingga produk seni.Mengamati dan memiliki karya seni khususnya produk kerajinan tembaga, tidak saja membuat kita lebih dekat dengan nuansa alam, tetapi juga mengingatkan kita akan kuatnya karakter kesederhanaan. Kesederhanaan alam dipancarkan oleh bahan alami tembaga yang telah disentuh oleh para seniman menjadi karya seni yang indah. Karya seni tembaga adalah perpaduan antara olah skill tinggi seniman dengan material alami. Karya seni kerajinan yang baik akan memperlihatkan “roh”nya. Roh bahan dan seniman.



